Burung Suka Menguping demi Menyelamatkan Diri

Burung Suka Menguping demi Menyelamatkan Diri
Burung Suka Menguping demi Menyelamatkan Diri

Burung Suka Menguping demi Menyelamatkan Diri

Burung Suka Menguping demi Menyelamatkan Diri

Sabung Ayam Online – Burung dapat mempelajari panggilan spesies burung lain. Kemampuan ini hampir sama dengan mempelajari bahasa baru. Jadi, hanya dengan mendengarkan panggilan peringatan terdekat. Setidaknya hal ini terjadi pada sebuah spesies burung di Australia.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology telah menemukan bahwa burung adalah “penguping” yang sangat baik.

Burung dapat mendengarkan panggilan burung lain ketika ada peringatan atas pemangsa di dekatnya. Cara tersebut membantu mereka tetap waspada. Bahkan, saat tidak ada pemangsa yang terlihat.

Para peneliti dari Australian National University di Canberra dan University of Bristol di Inggris mempelajari spesies burung cikrak-peri agung untuk lebih memahami proses menguping tersebut.

Dalam beberapa dekade terakhir, para peneliti telah berasumsi bahwa panggilan peringatan yang dilakukan hewan lebih kompleks daripada yang pernah dipikirkan.

Burung endemik dari Amerika Utara, chickadee, misalnya, dapat mengetahui ukuran pemangsa yang mendekat melalui panggilan mereka.

Peneliti mengatakan, banyak juga spesies yang menguping pada jenis burung lain, bahkan pada chipmunk. Tujuannya untuk mencari tahu apakah ada rubah atau elang Cooper di lingkungan tersebut.

Keahlian menguping juga bukan hanya mutlak kemampuan bawaan. Sejumlah burung mempelajari panggilan peringatan dari burung lain setelah mengaitkan seruan dengan kehadiran pemangsa.

Burung cikrak-peri agung dapat ditemukan di selatan Garis Balik Selatan melintasi Australia timur dan Tasmania ke tenggara Australia Selatan.

Burung ini dikenal dengan sebutan “burung paling tidak setia di dunia”. Sebab, seekor betina dapat didekati hingga 13 ekor jantan dalam setengah jam.

Hasil studi menunjukkan bahwa burung cikrak-peri agung dapat menafsirkan panggilan peringatan yang tidak dikenal, sekalipun mereka tidak pernah melihat burung yang melakukan panggilan atau pemangsa di area tersebut.

“Panggilan peringatan memperingatkan akan kehadiran pemangsa, tetapi di sini burung mempelajari arti panggilan dari panggilan peringatan kelompok lain tanpa perlu melihat pemangsanya,” kata Robert Magrath, salah seorang penulis studi tersebut.

“Ini berarti merupakan bentuk ‘pembelajaran sosial,’ di mana individu belajar dari individu lain ketimbang melalui pengalaman langsung. Dalam kasus ini, bahkan lebih tidak langsung, karena mereka hanya perlu mendengar dan tidak melihat burung-burung memberikan panggilan peringatan yang akrab. Jadi, secara teoritis mereka bisa belajar dengan mata tertutup,” urainya.

Penelitian sebelumnya menunjukkan burung itu mampu mempelajari panggilan peringatan baru jika mereka tertangkap pandangan pemangsa ketika mendengar peringatan.

Untuk percobaan kali ini, para peneliti membuat ancaman lebih abstrak. Pada awalnya, mereka mengekspos 16 burung yang ditandai di Australian National Botanic Gardens,Canberra, untuk suara peringatan baru, satu buah komputer yang menghasilkan dengungan dan peringatan alami dari burung chestnut-rumped thornbill, burung endemik Australia yang biasanya tidak ditanggapi oleh burung cikrak-peri agung.

Pada pertama kali mendengar bunyi-bunyi ini, semua burung cikrak-peri agung tidak memberikan reaksi khusus. Para ilmuwan kemudian berlari di sekitar taman dan terus memutar rekaman peringatan. Mereka berusaha untuk melatih separuh burung untuk mengenali jeritan peringatan thornbill sebagai suara peringatan. Lalu, separuh lainnya untuk mengenali dengungan yang dihasilkan komputer sebagai panggilan marabahaya.

Mereka melakukan itu dengan memainkan bunyi-bunyi yang sebelumnya tidak dikenal bersamaan dengan ragam suara yang burung-burung itu sudah kaitkan dengan bahaya, seperti jeritan-jeritan burung cikrak-peri agung.

Setelah tiga hari, para ilmuwan menguji apa yang telah dipelajari burung-burung tersebut.

Akhirnya, kedua kelompok burung cikrak-peri agung menanggapi suara yang telah mereka pelajari dengan melarikan diri untuk berlindung, tetapi tetap acuh pada suara yang lain.

Sebanyak 12 dari 16 burung melarikan diri di setiap pemutaran, sedangkan empat burung lainnya melarikan diri sebagai tanggapan atas dua pertiga atau lebih dari kesempatan pemutaran peringatan.

Menurut peneliti, para burung telah belajar untuk mengasosiasikan panggilan yang tidak dikenal dengan panggilan yang akrab dari spesies mereka sendiri dan mendeteksi bahaya.

“Hasilnya sangat mencolok,” kata Dominique Potvin, yang terlibat dalam penelitian.

“Mereka menunjukkan betapa cepatnya pembelajaran sosial dapat terjadi di alam liar melalui mendengarkan pengulangan peringatan, sebuah taktik yang mungkin berguna mengingat betapa sulitnya melihat pemangsa dan pemanggil di beragam kondisi lingkungan,” urainya.

Hasil penelitian tersebut dapat membantu upaya rehabilitasi. Sebab, banyak burung yang dibesarkan di penangkaran lebih mungkin dibunuh oleh pemangsa karena mereka belum terpapar dengan berbagai panggilan peringatan yang dilakukan oleh rekan-rekan liar mereka.

Dengan melatih burung di penangkaran untuk mengenali berbagai panggilan bahaya yang berbeda, burung memiliki kesempatan hidup yang lebih baik di alam liar.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*